Sejarah KGPA Mangkubumi
September 18th 2008
SEJARAH KGPA MANGKUBUMI
Nama kecil : RM Kaharkusmen
Lahir : Kamis Pon, 4 Sura 1777 Wawu atau 10 November 1848
Wafat : Senin Kliwon, 2 Jumadilakir 1847 Dal atau 26 Maret 1917
Dimakamkan di : Astana Sri Manganti Kedhaton Kasuwargan Imogiri.
RM Kaharkusmen adalah putra KGP Mangkubumi. KGP Mangkubumi selan-jutnya menduduki tahta NgDSDISKS Hamengku Buwono VI , sebagai pengganti kakaknya NgDSDISKS Hamengku Buwono V yang mangkat (wafat) dan karena tidak mempunyai putra lelaki.
Ibunda RM Kaharkusmen adalah putri Kyai & Nyai Ageng Prawirorejoso, setelah wafat Kyai & Nyai Ageng Prawirorejoso dimakamkan di Gunung Pengklik, Dukuh Payak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ibunda RM Kaharkusmen semula klangenan-dalem (istri) NgDSDISKS Hamengkubuwono V, selanjutnya diserahkan kepada adiknya KGP Mangkubumi.
Setelah berusia 8 tahun RM Kaharkusmen beserta saudara-saudara yang lain sekolah di Tamanan Kedhaton. Gurunya para abdidalem yang telah berkemampuan mengajar. Yang diajarkan antara lain : membaca dan menulis huruf Jawa dan latin, sopan santun (tata krama, unggah ungguh), sejarah Kraton Ngayogyakarta, bahasa Melayu, agama Islam dan lain-lain yang dianggap perlu. Semua siswa diwajibkan menghormati gurunya. RM Kaharkusmen termasuk siswa yang kepandaiannya menonjol, disiplin dan tekun mengikuti pelajaran yang diajarkan gurunya. Kakaknya RM Murteja sayang sekali dengan RM Kaharkusmen. Semua hal selalu dibicarakan dan minta pertimbangan adiknya. Di luar sekolah juga belajar menari dan karawitan, keras menjalankan ajaran agama Islam, dan tidak ketinggalan menjalankan tapabrata.
Setelah NgDSDISKS Hamengku Buwono V wafat, karena beliau tidak mempunyai putra lelaki maka KGP Mangkubumi (ayahanda RM Kaharkusmen) mengganti tahta sebagai NgDSDISKS Hamengku Buwono VI. Ibunda RM Kaharkusmen diangkat sebagai permaisuri (prameswari) dengan nama GKR Sultan. Putra lelaki tertua, RM Murteja diwisuda sebagai Pangeran dengan nama KGPA Anom Mangkunegoro. Begitu pula RM Kaharkusmen setelah dewasa diwisuda sebagai Pangeran dengan nama GPH Hadikusumo, juga saudara yang lain setelah dewasa diwisuda sebagai Pangeran.
Setelah NgDSDISKS Hamengku Buwono VI wafat sebagai penggantinya adalah KGPA Behi (semula bernama KGPA Anom Mangkunegoro), selanjutnya menjadi NgDSDISKS Hamengku Buwono VII. GPH Hadikusumo selalu dekat serta diminta untuk memikirkan keadaan Kraton seisinya. Setelah GPH Hadikusumo mengetahui bahwa penerimaan dari Pemerintah Belanda tidak mencukupi maka berusaha untuk meningkatkan pendapatan yang tidak bertentangan dengan perjanjian dengan Pemerintah Belanda. GPH Hadikusumo lalu memeriksa tanah-tanah milik kraton (kagungandalem) di Maosan, Kulomprogo masih banyak yang belum ditanami dan belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya, maka dibuat rencana pengolahan tanah-tanah tersebut. Dengan ditanami berbagai tanaman yang diperkirakan dapat meningkatkan pendapatan dan membangun pabrik yang bermanfaat. Rencana tersebut diajukan oleh GPH Hadikusumo kepada NgDSDISKS Hamengku Buwono VII, rencana tersebut diterima dan segera dilaksanakan secara hati-hati, kadang-kadang GPH Hadikusumo sendiri memeriksa. Orang-orang di kiri kanan desa gembira karena mendapat pekerjaan serta tambah pendapatan. Tidak berapa lama tanah-tanah dapat ditanami berbagai tanaman yang sesuai dan dapat dipanen dengan hasil yang memuaskan. Tambahan pendapatan makin lama makin banyak, yang selanjutnya diserahkan kepada NgDSDISKS Hamengku Buwono VI sehingga dapat untuk pemeliharaan kraton beserta isinya lebih longgar.
GPH Hadikusumo selanjutnya diangkat menjadi Lurah Pangeran dengan nama KGPH Mangkubumi, para saudara melaksanakan segala perintahnya. Tidak berapa lama KGPH Mangkubumi menjadi Lurah Parentah Punokawan Keraton, sebutannya ganti tetapi namanya tetap sehingga menjadi KGPA Mangkubumi. Sebagai penguasa dalam pemerintahan kraton makin luas, begitu pula di luar kraton. Rumahnya pindah ke Kadipaten, karena belum pernah yang menjabat KGPA Anom maka yang menjabat adalah KGPA Mangkubumi.
Di pedesaan Kulon Progo selain memberi pekerjaan mengerjakan tanah yang tidak sedikit jumlahnya juga memberi bantuan berupa alat tenun atau alat pemintal benang yang selanjutnya diwarnai (wenter) dengan baik kepada orang desa yang mempunyai pekerjaan (samben) menenun kain untuk bahan baju . KGPA Mangkubumi selalu pergi sendiri ke Kulon Progo, Pakem, Kaliurang dan pantai selatan. Di Pakem didirikan bangunan Pasanggrahan dengan kolam, pantai selatan di Parangwedan terdapat mata air panas yang payau (rasanya leteng) bermanfaat untuk pengobatan memperkuat otot dan sakit kulit. Mata air dipagari dan dibuat bangunan untuk tempat tinggal jika keluarga kraton (putra-sentono dalem) datang dan bak untuk berendam. Juga terdapat Abdi Dalem Juru Kunci dengan pangkat Mantri. Di Parangtritis juga dibangun Pasanggrahan untuk menenangkan pikiran dan melihat gelombang samudra. Di Kaliurang juga dibangun Pasanggrahan, semua bangunan Pasanggrahan dibuat kokoh dengan kayu jati pilihan.
Jika mempunyai sisa pendapatan selalu digunakan untuk membeli tanah pekarangan, sawah dan bangunan, sejak itu telah memikirkan putra dan cucu yang akan ditinggalkan. Terhadap agama Islam juga kuat, para putra dan cucu belajar mengaji, tiap bulan Puasa selalu puasa, dan juga senang tapabrata. KGPA Mangkubumi termasuk bangsawan yang mumpuni banyak hal. Ketika putrinya bernama KRAyu Adipati Anom dikembalikan ke Mangkubumen KGPA Mangkubumi selalu memohon kepada Tuhan YME agar cucunya GRM Dorojatun dapat menduduki tahta.
Ketika meninjau Kulon Progo istirahat di rumah Demang di Nglendah, beliau melihat anak putrinya Demang Nglendah, dan jatuh cinta (kasmaran) selanjutnya diminta sebagai istri dengan nama Raden Ayu Adipati Mangkubumi muda, sedangkan istri sebelumnya adalah putri dalem NgDSDISKS Hamengku Buwono V yang selanjutnya diberi nama Bendara Raden Ayu Adipati Mangkubumi. Sebelum menikah KGPA Mangkubumi telah mempunyai klangenan dan putra.
Menurut cerita putra KGPA Mangkubumi dengan klangenan RAy Pujomurti yang bernama RM Sutandar senang terhadap kesenian, semula hanya senang membaca Mocopat, lama kelamaan menggemari Mocopat dan selanjutnya Mocopat untuk ucapan pada tarian yang diiringi gamelan. Kesenian tersebut diberi nama Langendriyo. Selanjutnya semua ciptaannya diserahkan kepada KGPA Mangkubumi, beliau mendukung dan kekurangannya dibantu, serta minta ijin kepada NgDSDISKS Hamengku Buwono VII. NgDSDISKS Hamengku Buwono VII mengijinkan, tarian Laangendriyo dilakukan secara berjongkok (jengkeng), ucapan dengan uro-uro, ceritanya mengambil dari serat Damarwulan..
Jika KGPA Mangkubumi mengadakan pesta pernikahan selalu diadakan pertunjukan Langendriyo, penutupannya tari Golek Gambyong disertai Canthang Balung. Selain tari nglana diiringi tembang yang menggambarkan pendidikan terhadap orang berumah tangga.
KGPAA Mangkunagoro melihat kesenian Langendriyo sangat tertarik sehingga minta ijin kepada KGPA Mangkubumi untuk meminjam serat Kondho dan pocapan Lelangen Langendriyo yang akan digunakan untuk membuat lelangen di Mangkunegaran. KGPA Mangkubumi tidak keberatan. Di Mangkunegaran yang menari semua wanita, tarinya berdiri menurut cara Surokarto. Serat kondho beserta pocapan oleh Mangkunegaran dicetak dan dijilid di Jakarta (Batavia).
Karena sayangnya NgDSDISKS Hamengku Buwono VII dengan KGPA Mangku-bumi, semua tindakannya selalu berkenan maka Ngarso dalem menghendaki besanan. Banyak putra KGPA Mangkubumi yang diberi istri (triman) oleh Ngarso Dalem, sampai cucu masih ada yang diberi istri . Setelah KGPA Mangkubumi wafat apa yang menjadi permintaan dikabulkan oleh Tuhan YME, yaitu GRM Dorojatun dapat dinobatkan sebagai NgDSDISKS Hamengku Buwono IX. Warisan almarhum KGPA Mangkubumi dalam bentuk benda sampai saat wafatnya masih ada, sayangnya bangunan di Parangwedang dan Pasanggrahan Pakem dibumi hangus rakyat pada Aksi Polisional II.
Pada tanggal 14 Rejeb 1904 Be atau 24 Agustus 1972 Pemerintah RI memberikan anugerah berupa bintang emas, Surat Piagam dan uang Rp 250.000,- (Dua ratus lima puluh ribu rupiah) kepada KGPA Mangkubumi sebagai penghargaan mencipta Langendriyo. Yang menerima penghargaan tersebut adalah KRT Projokusumo sebagai putra yang tinggal di Jakarta. Penghargaan dalam bentuk uang dibagikan kepada ahli waris, sedangkan yang dalam bentuk bintang emas dan piagam disimpan.
Sampai saat sejarah ini ditulis (tahun 1987) semua putra almarhum telah meninggal dunia, tinggal cucu, cicit, canggah dan wareng.
Para saudara sekandung KGPA Mangkubumi adalah :
1. GRM Murtejo, selanjutnya dinobatkan sebagai NgDSDISKS Hamengku Buwono VII
2. GKR Hangger, istri KPH Yudonegoro, selanjutnya sebagai Patih KRA Danurejo VII
3. GKR Pembayun, istri Patih Danurejo V
4. GKR Anom, istri RT Danuningrat
5. GPH Suryomentaram
6. GKRAyu, istri KGPAA Paku Alam IV, yang dicerai selanjutnya diperistri Bupati Ngawi
7. KGPA Mangkubumi
8. GKR Bendoro, istri RT Wijil
9. GPH Buminoto
10. GPH Puger
11. GPH Suryoputro
12. GPH Anom
Saudara dari BRAyu Adipati Mangkubumi Sepuh :
1. KPH Suryadi
2. RAy Mangunjoyo I
3. RL Suryodiprojo
4. KRT Puspodiningrat
5. RAy Mangkukusumo
6. RAy Atmosetejo
7. RAy Sudjono Tirtokusumo
8. RAy Wironegoro
9. R Panji Djoyowiloyo
Saudara dari BRAyu Adipati Mangkubumi Enem :
1. RAj Karsinah (sedo timur)
2. RT Jogonegoro
3. RB Suryodipuro
4. RT Suryoatmojo
5. RAy Mangunjoyo II
6. KRT Ronodiningrat
7. RB Suryokusumo
8. RT Condroprojo
9. KRAA Anom (Kanjeng Alit) adalah ibunda NgDSDISKS Hamengku Buwono IX
Mohon dilengkapi data nama-nama kurang lengkap. Tentang sejarah KGPA Mangkubumi mohon diambilkan dari buku bagian tulisan R.M. Pramutomo, Nuwun.
pramutomo on 06 Jan 2009 at 5:25 am #
??? mengapa belom ada jawaban atas pertanyaan kami beberapa waktu yang lalu ???
La Sangke on 20 Apr 2009 at 9:50 pm #
Nuwun sewu, sebelumnya. Bagi sedherek2 yang dapat menjawab pertanyaan2 yang diajukan di website ini, mohon dapat ditindaklanjuti. Tidak harus dari pengurus atau pengelola website ini. Matur nuwun.
jeng Retno on 04 Jul 2009 at 9:09 am #
saya masih keturunan ke-4 dari HB VI,GPH Suryoputro adalah kakek saya.ibunda saya RA.Moesnetty Niwiyati (Alm) 1941-2005 adalah cucu dari GPH Suryoputro keturunan ke-3 dari HB VI.mohon dilengkapi silsilah KGPA Mangkubumi.
RA.Diah Endang N.A.R on 10 Nov 2009 at 10:32 pm #
waduh,,,,
malah saya bingung saya keturunan yang mana????
karna di nama ku ada kusumo nya juga? aku tanya bapk ku malah ga di jawab, cuma bilang uyang uyut cewe&cwo ku dari jogja & surakarta.dan keturunan dr HB berapa gitu saya lupa,mau tnya lagi tkot di marahin..katanya pernah ada somthinng problem……….saya cuma pengen tau azah sodara-sodara ku…
Ravita kusumo pratiwi on 24 Feb 2010 at 4:33 am #
Dimana saya bisa mendapatkan informasi tentang GPH Suryo Mataram (anak kelima dari GKR Sultan)? Karena saya adalah putri dari Gusti Timur yang merupakan putra dari Ndoro Purbo yang merupakan putra dari GPH Suryo Mataram.
Nama Suryomentaram yang saya temui di internet kebanyakan tentang Ki Ageng Suryomentaram yang merupakan anak dari HB VII.
Sekar Arum on 14 Aug 2010 at 11:54 pm #